Puisi

Sajak Si Penyendiri

Hujan…. Hujan….. oh Hujan…..

Akhirnya engkau datang juga…

Aku rasa engkau datang tuk menemaniku

Mengobati jiwa yang remuk redam berjuta pilu

Menyiram dahaga kalbu yang kian mengharu biru

Pohon……

Mengapa kau begitu congkak kepadaku?

Berdiri mematung di sana?

Bahkan seulas senyum pun seakan sukar kau beri

Kau memilih merelakan diri jadi bulan-bulanan hujan

Kau lebih memilih menjadi sasaran amarah mentari,

Sementara aku disini kau biarkan bergelut dengan sepi,

Tenggalam dalam kesendirian dan berteman dengan senyap.

Teman….. mana kau teman?

Seburuk itukah diriku sampai aku diasingkan?

Bagai orang terkena kutukan, kucing-kucing kampung kurapan…

Sahabat, mana engkau sahabat?…

Kenapa banyak orang yang mengaku sahabat ketika aku mujur

Namun kalian berlalu saat aku renta tak berdaya, meninggalkanku

Bak sisa sayur-mayur

Aku tak mengerti???

Kenapa kau Bulan hanya mentertawai nestapa,

Berlagak tak tau apa-apa, bertahta di Cakrawala,

Tertawa bahagia kala nasib kian merana.

Engkau Angin….

Tertawa geli ketika melihat aku sendiri

Oh ya… aku baru ingat…

Kau kan tak punya perasaan…

Tak berbeda jauh dari mereka yang kata nya punya..

Terima saja kau sang penulis sajak!

Kau ini sendiri sekarang…

Ditinggalkan Karena kau kotor

Bersalah di sana-sini.

Berbaur dengan dosa, membusuk di liang dosa.

Mereka itu suci!, bagai malaikat tak bersayap

Yang tak mungkin bersalah maupun khilaf.

Memiliki esensi kebenaran hakiki

Duduk jumawa berkacak pinggang serta membusungkan dada

Tersenyum sinis melihat sebelah mata.

Kau (penulis) yang sendiri

Terkapar tak berdaya beralaskan balada

Berselimutkan mendung, dinaungi awan duka

Terpenjara di sel berjeruji ironi

Dihukum dalam pengasingan yang melemahkan nadi

Kau sendiri…

Terpatri dalam sepi

Terombang-ambing di tengah lautan sendiri

Tak berdaya, hampir mati…..

Al-Azhar Atas 1, 6 November 2015.

Facebook Comments

Tagged

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *