Menghasut Maba, Masih Jaman?

Di tengah suasana kritis dan perkembangan mahasiswa yang kian progresif, Saya menyayangkan masih ada oknum, atau bahkan sekelompok Kaka tingkat (kating) yang membatasi mahasiswa baru untuk ikut organisasi ekstra kampus tertenutu.

Motifnya beragam, namun yang paling sering terjadi adalah Dua:

Pertama, karena pilihan mahasiswa baru berbeda dengan Katingnya. Sebenarnya ini masalah yang klasik dan ironis. Di negara yang menjunjung kebebasan berorganisasi, masih ada kating yang memaksa maba untuk ikut sependapat dengannya dengan ancaman dikucilkan atau ditolak di organisasi intra kampus tempat kating bercokol. Kasus ini jamak terjadi, bahkan membudaya. Jika sudah seperti ini, Apa bedanya mahasiswa yang memiliki kedudukan elit nan terhormat dengan preman pasar yang memaksa pedagang menuruti perintahnya?

Yang menjadikan keadaan tidak sehat, seringkali hoax dan fitnah keji dilancarkan untuk memuluskan apa yang kating inginkan. Mereka memelintir Sejarah seenak sendiri, mengeluarkan pernyataan yang menyudutkan pihak lain dan cara kurang higienis lain.

Kedua, kating abu-abu atau mereka yang tak merasa berafiliasi dengan organisasi ekstra manapun seringkali membatasi mahasiswa baru untuk bergabung dengan organ ekstra. Dalih yang muncul pun beragam, dari yang paling receh hingga yang sok humanis.

Yang ironis, para kating ini mengaku netral dan tidak memihak manapun. Namun, jika ditelisik lebih dalam, apakah benar jika mereka mengaku netral namun memaksa, mengintimidasi, menghalang-halangi mahasiswa baru untuk mengikuti ‘jalan ninja’ mereka? Dengan bahasa yang sarkas dan lucu bisa disebut: “Netral yang tidak netral.” Mengapa begitu? Seyogyanya mereka yang mengaku netral tentu harus bersifat toleran kepada mereka yang tak sejalan.

Selanjutnya, golongan “Netral” juga ini melanggengkan praktek senioritas kampungan. Maba didoktrin, ditatar, diperkosa mengikuti kehendak mereka, bahkan hingga tataran paling privat: pilihan politik. Tentu, hal ini juga menggambarkan oligarki menjijikan senior-junior yang sama sekali bertolak belakang dengan omongan-omongan manis mereka mengenai kebebasan berpendapat & menghargai pendapat. Inginku menjawab “telek!!!” Ketika mereka beretorika sampah seperti itu.

Untuk Maba, Jangan mau disetir oleh kaka-kakamu yang akrab di kala suasana politis belaka. Ikutilah nuranimu dan keinginanmu selama itu baik. Sebagai kating yang belum bisa disebut baik ini ingin menegaskan, tidak ada yang bisa memaksamu, tidak Ada yang bisa mendiktemu! Kau dilahirkan sebagai manusia merdeka! Maka, merdekalah hingga kau mati!

Jangan mudah percaya dengan omongan kating begitu saja, tabayyun dan verifikasi merupakan harga mati untuk kalian agar tak terhasut oleh kating-kating dengan berbagai kepentingan. Baca buku berkualitas sehingga tidak mudah tertipu kating yang Tak pernah membaca buku itu. Sifat kritis harus dibiasakan hingga kalian tidak mudah dikadali oleh kadal-kadal Kampus.

Tabik,

Rifqi Iman Salafi

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *