Biografi

Mengenang Mbah Nuh Pageraji: Ahli Karomah Yang Mewakafkan Diri untuk Pendidikan

K.H. Muhammad Nuh Al Hafiz atau Mbah Nuh merupakan salah satu ulama NU kharismatik Banyumas yang berdomisili di Desa Pageraji, Cilongok. Ia bersama Mbah Suyuthi dan Mbah Sopawi merupakan ujung tombak dakwah NU di Desa Pageraji dan sekitarnya. Berkat kontribusi Mbah Nuh dan dua sosok tersebut, kini, Pageraji dan sekitarnya dikenal sebagai salah satu basis keislaman ‘ala ahl as-sunnah wa al-jamaah Al Nahdlyiyyahh di Kecamatan Cilongok. Mbah Nuh memang telah wafat tiga dekade yang lalu, namun kharismanya tidak pernah luntur. Makamnya mejadi salah satu destinasi wajib bagi peziarah yang ingin menziarahi ulama-ulama keramat Banyumas. Haulnya -diadakan setiap tanggal 11 Dzulhijjah- selalu ramai dihadiri pengunjung yang ingin mendoakannya serta ngalap barokah1 dari ulama yang selama hidupnya terkenal sebagai pakar Al Quran dan Ilmu Hikmah tersebut.

Kelahiran

Muhammad Nuh lahir di Mekkah pada 1900. Ia lahir saat kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji. Muhammad Nuh merupakan putra ke-7 dari pasangan KH. Abdurrohim dan Nyai Hj. Jamilah. KH. Abdurrohim sendiri merupakan perintis Pondok Pesantren Nurul Islam Karangjati, Cilacap.

Rekam Jejak Akademis

Menginjak usia remaja, Muhammad Nuh berkembara untuk ngangsu kaweruh di beberapa pondok pesantren. Ia sempat mondok di Pesantren Tremas (Pacitan, Jawa Timur) selama 4 tahun. Muhammad Nuh muda berguru kepada K.H. Dimyathi, adik Syaikh Mahfudz Attarmasi–salah satu ulama Nusantara yang menjadi imam besar di Mekkah. Terdorong kecintaannya pada Al Qur’an, Muhammad Nuh melanjutkan studinya ke Pondok Pesantren Krapyak (Yogyakarta). Setelah ngaji selama 4 tahun (1918-1922), ia berhasil mendapatkan sanad ilmu Al Qur’an dari K.H. Munawwir Krapyak. K.H. Arwani Kudus merupakan teman seperjuangannya selama di Krapyak. Nuh sempat belajar di Cirebon sebelum ia melanjutkan petualangan intelektual ke kota kelahirannya, Kota Mekkah. Setelah menghabiskan waktu 5 tahun di Tanah Suci, ia pulang ke kampung halaman untuk mengamalkan ilmu.

Meneruskan Perjuangan Ayahanda

Seperti yang telah disebutkan, Ayah Mbah Nuh adalah perintis Pondok Pesantren Nurul Islam Karangjati. KH. Abdurrohim mulai merintis pesantren pada 1920. Awalnya, jumlah santri bisa dihitung dengan jari. Seiring berjalannya waktu, jumlah santri semakin banyak. Mereka tidak hanya berasal dari area Karangjati, namun juga daerah di sekitar Kabupaten Cilacap seperti Banyumas, Brebes, dan Kebumen. Karena usia K.H. Abdurrohim yang telah uzur, tampuk kepemimpinan pondok diserahkan kepda putra-putranya: K.H. Abdullah Mughni pada 1926 dan disusul oleh K.H. Muhammad Nuh pada 1930.

Pada masa kepemimpinan Mbah Nuh dan saudaranya, K.H. Ismail, pondok berkembang cukup pesat. Asrama pondok putra untuk pertama kali sukses dibangun. Pada tahun 1936, delapan saudara Mbah Nuh pulang dari pengembaraan mencari ilmu. Ketersediaan tenaga pengajar yang cukup ini mendasari keputusan KH Abdurrohim untuk memerintahkan Mbah Nuh untuk berdakwah di daerah lain.

Babad Pageraji

Awalnya, Mbah Nuh dan istrinya, R.A. Sukapti ditawari untuk tinggal di daerah Bulakan, Desa Langgongsari, namun pada akhirnya, ia memutuskan untuk tinggal di daerah Legok, Desa Pageraji. Sesuai namanya yang berarti cekungan tanah, daerah yang dipilih Mbah Nuh ini memang lebih rendah di daerah di sekitarnya, mirip seperti lembah. Daerah Legok dikenal sebagai daerah yang angker, namun sangat strategis karena berada di tengah-tengah desa dan dekat dengan jalan raya.

Sebelum kedatangan Mbah Nuh ke Pageraji, sebenarnya sudah ada dua ulama yang saling bahu-membahu dalam berdakwah di Desa Pageraji, yaitu K.H.R. Sayuthi (Gedongpapak) dan K.H. Sopawi (Pageraji Utara). Mereka berdua menyambut hangat kedatangan Mbah Nuh. Bahkan, Mbah Nuh diberi sebidang tanah untuk didirikan mushola, rumah, dan pondokan. Pada perjalanannya, Mbah Nuh, Mbah Sayuthi, dan Mbah Sopawi menjadi trio yang kompak dalam dakwah keislaman di daerah Pageraji. Ada kesepakatan tak tertulis bahwa Mbah Nuh adalah tempat warga ngaji Al Qur’an dan Ilmu Hikmah, sedangkan Mbah Sayuthi dan Mbah Sopawi ngasta pengajian kitab kuning. Jasa mereka bisa dilihat sampai sekarang: Desa Pageraji pada khususnya dan Kecamatan Cilongok pada umumnya merupakan basis NU yang kuat. Dakwah ketiga tokoh yang berafiliasi kepada NU tersebut juga didukung oleh letak geografis Kecamatan Cilongok yang dekat dengan pusat pergerakan NU di Jawa Tengah bagian barat, yaitu Kecamatan Sokaraja.

Mbah Nuh dan Dunia Pendidikan

Sejak memulai dakwahnya di tanah Legok pada 1936, Mbah Nuh mulai merintis Pondok Pesantren Darul Hikmah (PPDH). Pada masa awal berdirinya, santri yang datang untuk mengaji hanya sedikit, hanya warga Pageraji dan sekitarnya. Lama-kelamaan jumlah santri kian bertambah. Jumlah santri mukim mencapai 50 orang. Pada Bulan Ramadan, jumlah santri meningkat drastis hingga 1000 orang untuk santri laki-laki dan 125 orang untuk santri perempuan. Mereka datang dari pelbagai daerah seperti Cilacap, Purbalingga, Brebes dll. Mbah Nuh terkenal sebagai
maestro dalam ilmu Al Qur’an dan Ilmu Hikmah. Setiap pengajian Al Qur’annya, ia tak segan-segan menjelaskan rahasia di balik ayat-ayat hikmah yang ditemui. Klimaks dari pertambahan jumlah santri adalah periode 1975-1983. Sepeninggal wafatnya Mbah Nuh pada 1986, perjuangannya dilanjutkan oleh dua anaknya, yakni K.H. Ma’tuf Nuh dan K.H Marchum Nuh. Hingga kini, PPDH ramai didatangi santri kalong saat Bulan Ramadan menjelang.

Mbah Nuh tidak hanya vokal dalam mengelola pendidikan tradisional berupa pondok pesantren, namun ia juga aktif dalam dalam pendirian sekolah modern. MI Ma’arif NU 1 Pageraji dan MTs Ma’arif NU 1 adalah bukti monumentalnya. MI Ma’arif NU 1 Pageraji yang pada awalnya bernama Madrasah Wajib Belajar (MWB) berdiri pada 1955 atas prakarsa empat tokoh masyarakat Pageraji, salah satunya H. Makmur Nuh yang merupakan salah satu putra Mbah Nuh. Dewasa ini, madrasah yang terletak di Jalan Raya Pageraji No.10 tersebut menjadi salah sekolah tingkat dasar favorit di Kecamatan Cilongok.

Peran Mbah Nuh yang lebih kentara terasa dalam pendirian MTs Ma’arif NU 1 Cilongok. Ia menjadi salah satu inisiator berdirinya madrasah yang awalnya bernama PGA NU 6 Tahun tersebut. Tidak cukup di situ, Mbah Nuh juga ikut turun tangan menjadi tenaga pengajar sukarela di sekolah yang baru lahir. Ia bersama K.H. Bajuri (Rejasari, Purwokerto) didapuk menjadi “pengajar luar biasa” pada tahun pertama berdirinya madrasah (1970).15 Pada tahun 1999, MTs Manusaci seakan menjadi Amoeba. Sekolah ini terbelah menjadi dua dan salah satu bagiannya menjadi madrasah baru yang mandiri. Pasalnya, kelas filial MTs Manusaci di Desa Panembangan yang ada sejak 1995, secara resmi, memisahkan diri dan menjadi MTs Ma’arif NU 2 Cilongok.

Keteladanan Mbah Nuh

Mbah Nuh adalah sosok yang zuhud. Saat dihadiahi tanah yang kelak akan menjadi pondok, rumah, serta musholanya, ia sempat menolak lantaran takut akan adanya
sengketa di kemudian hari. Ia juga terkenal sangat anti dengan yang namanya jabatan. Pada suatu ketika, karena terkenal akan ketokohan dan kealimannya, ia sempat akan didapuk sebagai salah satu pimpinan Pengurus Cabang NU Banyumas. Namun, ia menolak untuk menerima jabatan tersebut. Begitupun ketika ia ditawari untuk menjadi pejabat di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyumas, ia juga enggan mengambil jabatan tersebut. Meskipun menolak mendapat jabatan di NU, namun ia pribadi selalu berada di garda terdepan dalam dakwah NU. Kiprahnya pada bidang dakwah dan pendidikan tidak diragukan lagi dengan adanya PPDH, MWB, dan PGA.

Selain zuhud, Mbah Nuh yang begelar Al Hafiz juga diketahui sangat dermawan. Ia gemar mengunjungi rumah wali santri dengan membawa buah tangan berupa gula merah. Ia juga tak lupa membawa buntelan kecil berisi uang untuk diberikan kepada anak kecil yang ia temui.Ketika bepergian ia juga tak segan memberi uang kepada pengemis.

Mbah Nuh juga dikenal sebagai seorang yang idealis dengan keilmuaannya. Walaupun tersohor sebagai ahli dalam seluk-beluk Al Qur’an, ia tak kersa ketika diminta menjadi juri perlombaan membaca Al Qur’an atau Musabaqah Tilawah al-Qur’an (MTQ). Baginya, Membaca Al Qur’an itu tidak untuk dilombakan. Keliru jika ada orang yang salah dalam membaca Al Qur’an justru membuat senang orang lain (peserta MTQ yang lain) karena membuat dia juara. Sebaliknya, salahnya seseorang dalam membaca Al Qur’an harus menjadi sebuah keprihatinan dan ia harus dibenarkan. Ia tegas memosisikan Al Qur’an sebagi sesuatu yang tidak boleh diperlombakan.

Berpulang ke Haribaan-Nya

K.H. Muhammad Nuh wafat pada 17 Agustus 1986/11 Dzulhijjah 1407 pada usia 86 tahun. Jasad kyai kharismatik ini dikuburkan di area Pondok Pesantren Darul Hikmah, Desa Pageraji. Anak Mbah Nuh yang diketahui bertahan hidup berjumlah 10. Uniknya, 10 nama anak tersebut berawalan “M”, yaitu: Ma’mur, Ma’rifah, Mahsus, Mastur, Maslahah, Marfu’ah, Mahrus, Ma’tuf, Marchum, dan Mahbub.

Wallahu A’lam

Facebook Comments

Tagged , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *