Puisi

Jika Rindu

Jika Rindu adalah hujan

Maka aku telah tenggelam

Jika Rindu adalah hujan

Maka aku telah tenggelam

Berenang pun aku tak kuasa

Apalagi menyelematkan diri


Jika rindu adalah kemarau

Maka aku begitu haus dan kerontang

Tersiksa dahaga

Di ambang maut

Namun Izrail tak kunjung bertandang


Jika rindu adalah gempa

Maka aku adalah pemukiman yang porak-poranda

Maka aku adalah pelabuhan yang luluh lantak tersapu tsunami

Maka aku adalah manusia yang dimainkan maut

Entah ke mana akan berlindung


Jika rindu adalah diktator

Maka aku adalah pekerja rodi yang tak pernah dibayar pertemuan

Maka aku adalah warga shabra sartilla yang dibantai tak tersisa, hanya trauma yang hidup

Maka aku adalah warga Korea Utara yang terpencil dari dunia


Jika rindu adalah engkau

Maka aku akan tetap menjadi perindu

Meski lelah

Meski jengah

Meski terengah-engah


Jika rindu adalah aku

Maka aku kan menahanmu sebagai perindu

Mesku kau ambigu

Meski  cintamu radu

Meski  rasamu payau


Jika rindu adalah puisi

Aku ingin segera membaca bait terakhir

Meski akhirannya getir

Karena puisi ini membuatku kentir


Karena rindu adalah petir

Menyambar di hulu dan hilir

Menggangu saat badai dan silir 

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *