Author: rifqi

Rampenan

Malam mulai larut saat Aku turun dari bus antarkota. Kulirik jam sudah hampir pukul satu. Seharusnya Aku sudah sampai sejak pukul sembilan tadi, tetapi karena macet di jalan antarprovinsi, waktu perjalanan ngaret hampir empat jam. Kulihat fitur peta di gawaiku, ternyata rumah Sam sudah dekat, menurut peta, Aku cukup berjalan sepuluh menit untuk sampai. Sebenarnya

Cinta?

Meskipun cinta deritanya tiada akhir (Cu Pat Kai), tetapi cinta -lah yang- kan membawamu kembali di sini (Dewa 19). Meski cintaku tak sesuci cinta suci Zahrana, tetapi aku yakin kalau cinta sudah melekat tahi kucing -kan- berasa coklat (Gombloh). Meski Bruno Mars berkata: “Lover makes you stupid” tetapi cinta ‘kan selalu dieja: “C-I-N-T-A.” Intinya: Love

Belum Merdeka

Malam telah lama hening Hingar bingar upacara telah usai Begitupun hiruk pikuk lomba sudah purna Tapi isi kepalaki bergemuruh Aku belum sepenuhnya merayakan kemerdekaan Belum merdeka Atau mungkin tidak akan pernah sama sekali Karena semua tentangmu adalah penjajahan Penjajahan yang melalaikan Penjajahan yang membahagiakan Penjajahan yang membuatku semakin berharga Bukan kah Pertiwi diperkosa kompeni karena

Malamku Menekuri Rahasia

Malamku terang-benerang Mata ini sukar terpejam, Tersinari pesonamu Terhiasi ketidakberanianku   Bulu mata “ndamar kanginan”mu terus menggelayut di angan begitu dekat, namun tak kasat mata, mendadak ia jauh, begitu jauh dan tak terlihat dipisahkan ketidaktahuan, diceraikan prasangka   Jilbabmu yang merah muda masih terasa desir kibarannya menyentuh bahuku yang begitu rapuh, seakan ia tak pernah

Kegelapan Yang Paripurna

Kau adalah lautan Yang dalamnya tak terperi ujunganya tak terdeteksi Kau adalah gelap malam Hitam pekat penuh misteri Apa yang ia telan akan hilang, tak diketahui Meski begitu, malam adalah ketenangan dan puisi Yang indah, panjang, dan tak tersentuh imajinasi Kau adalah rahasia dan warna Ketika aku stalk, Aku sendiri yang tak berdaya Postinganmu itu-itu

Mazmur Daud

Aku tenggelam di bengawan lirik, Terhenyak di bawah lengkingan oktaf, dan terpana sebelum masuk refrain   Jika candu itu memabukkan, Maka lengkingan suaramu adalah anestasi- Mematirasakan luka yang menggurita- setelah kepergian yanga tak terelakkan   Jika mereka mengharamkan musik dan lagu- maka kuberharap agar mereka memberi rukhsah pada lagu-lagumu Jika mereka tak bergeming- terpaksa Aku

Pesantren: Dermaga Rinduku

Aku rindu para kyai yang mengabdi tanpa digaji, mengajar tanpa dibayar, dan – berkhidmat seakan lupa akan rasa lelah   Aku rindu para pengurus Yang mengurus tanpa pernah terurus Teroris saat lelapnya pagi, dan malaikat sata Aku sakit   Aku rindu melihat santri baru Mereka menangis saat ditinggal orang tuanya sejam yang lalu Ia menangis

Mengapa Saya Ber-PMII

Karena penulis tidak punya massa yang bisa dikerahkan untuk menyanyikan yel-yel bernuansa politis atau tidak punya cukup dana untuk memasang banner yang bertujuan mempromosikan pemikiran penulis, maka penulis memilih untuk sedikit berdialektika mengapa penulis bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pertama karena alasan ideologis. Penulis memilih PMII karena organisasi dengan jelas mencantumkan ideologi Ahlus

Adab di Ujung Senja

Senja, dengarkanlah Aku Aku yang mengiba di halamanmu Dianaktirikan nasib tanpa alasan Ditinggal pergi bersama kenangaan, Kenangan yang menggenang, jernih bukan main Memantulkan kisah bahagia, namun keruh saat coba kugapai Senja, dengarkanlah Aku Mengapa kisahku berakhir di altar suci Tempat diaku dan dianya diaku mengikat janji suci di atas jiwa yang mati, ditinggal pergi, digerogoti

Terimakasih dan Sampai Jumpa

Terimakasih, pernah menjadi pelangi setelah hari-hariku yang penuh petir dan hujan Terimakasih, pernah menjadi mentari setelah malamku yag gelap, lama, dan dingin Terimakasih, telah menjadi refrain indah setelah intro sember yang jauh dari estetika Terimakasih, atas senyum di senja kala setelah siang sarat hiruk-pikuk, kegaduhan, dan debu jalanan.   Kini,   Gelang di antara kita