Tugas

Lanjutan Sastri

Terusan dari http://imlihlamka.blogspot.com/2015/03/menulis-sastri-sebuah-narasi-tentang.html?m=1 Hujan semakin menggila hingga datang malam. Mungkin sekitar jam delapan malam, hujan mulai surut. Aku yang berteduh di bawah pohon, mulai diserang ganasnya batalion nyamuk, mereka menyerang secara sporadis. Tak lama, aku sudah tak merasa kerasan di sini. Serangan nyamuk menjadi alasan primer, gelap gulita menjadi yang sekunder. Ditengah kebingunganku, terdengar ada dua atau tiga, mungkin empat…

Continue Reading

Puisi

Aku Harus Segera Melupakanmu

Aku harus segera melupakanmu Sebagai mana bumi melupakan kemarau setelah disambangi hujan Aku harus segera melupakanmu Sebagaimana tisu yang menyapa pipimu selepas tangis yang syahdu Aku harus segera melupakanmu Sebagaimana sang kembara melepas haus setelah bersua oase Aku harus segera melupakanmu Sebagaimana pantai melupakan istana pasir yang telah tersapu ombak Aku harus segera melupakanmu Sebagaimana Ibrahim merelakan Ismail Sebagaimana Abdul…

Continue Reading

Cerpen, Tugas

Gutho Yang Tak Pernah Kembali

Pagi sudah tiba di Pasar Cilongok, namun dia tidak datang sebagai yang pertama. Dia kalah cepat dengan pedagang sayur yang sedari dini hari tadi sudah mangkal, menduduki kios-kios pasar tradisional itu. Apalagi hari itu hari Minggu Manis, hari pasaran teramai Pasar Cilongok yang tidak lain tanggal mainnya. Keramaian pagi hari tidak mengusik tidur Gutho, begitu lelaki paruh baya yang dikenal…

Continue Reading

Cerpen, Tugas

Rampenan

Malam mulai larut saat Aku turun dari bus antarkota. Kulirik jam sudah hampir pukul satu. Seharusnya Aku sudah sampai sejak pukul sembilan tadi, tetapi karena macet di jalan antarprovinsi, waktu perjalanan ngaret hampir empat jam. Kulihat fitur peta di gawaiku, ternyata rumah Sam sudah dekat, menurut peta, Aku cukup berjalan sepuluh menit untuk sampai. Sebenarnya ada dua jalur menuju rumah…

Continue Reading

Puisi, Tugas

Sebuah Elegi untuk Semboyan

Kita berteriak: “NKRI Harga Mati!” Namun di depan tahta, Negara tak lagi berharga Republik pun dibiarkan mati Kita berteriak: “Pancasila Sakti” Namun di depan harta, Pancaindera mendadak terkena malfungsi Sila-sila sakti mati Kita berteriak: “NKRI Bersyari’ah” Tetapi bersikap ramah kita ogah Berbeda sedikit, dedah! Takbir tak lebih hanya di bibir Tuhan begitu lembut, kita begitu lacut Tuhan begitu sabar, kita…

Continue Reading

Mukadimah, Puisi

Cinta?

Meskipun cinta deritanya tiada akhir (Cu Pat Kai), tetapi cinta -lah yang- kan membawamu kembali di sini (Dewa 19). Meski cintaku tak sesuci cinta suci Zahrana, tetapi aku yakin kalau cinta sudah melekat tahi kucing -kan- berasa coklat (Gombloh). Meski Bruno Mars berkata: “Lover makes you stupid” tetapi cinta ‘kan selalu dieja: “C-I-N-T-A.” Intinya: Love is You (Cherry Belle)  

opini

Menghasut Maba, Masih Jaman?

Di tengah suasana kritis dan perkembangan mahasiswa yang kian progresif, Saya menyayangkan masih ada oknum, atau bahkan sekelompok Kaka tingkat (kating) yang membatasi mahasiswa baru untuk ikut organisasi ekstra kampus tertenutu. Motifnya beragam, namun yang paling sering terjadi adalah Dua: Pertama, karena pilihan mahasiswa baru berbeda dengan Katingnya. Sebenarnya ini masalah yang klasik dan ironis. Di negara yang menjunjung kebebasan…

Continue Reading

Puisi

Belum Merdeka

Malam telah lama hening Hingar bingar upacara telah usai Begitupun hiruk pikuk lomba sudah purna Tapi isi kepalaki bergemuruh Aku belum sepenuhnya merayakan kemerdekaan Belum merdeka Atau mungkin tidak akan pernah sama sekali Karena semua tentangmu adalah penjajahan Penjajahan yang melalaikan Penjajahan yang membahagiakan Penjajahan yang membuatku semakin berharga Bukan kah Pertiwi diperkosa kompeni karena ia molek? Namun seperti penjajahan…

Continue Reading

Puisi

Malamku Menekuri Rahasia

Malamku terang-benerang Mata ini sukar terpejam, Tersinari pesonamu Terhiasi ketidakberanianku   Bulu mata “ndamar kanginan”mu terus menggelayut di angan begitu dekat, namun tak kasat mata, mendadak ia jauh, begitu jauh dan tak terlihat dipisahkan ketidaktahuan, diceraikan prasangka   Jilbabmu yang merah muda masih terasa desir kibarannya menyentuh bahuku yang begitu rapuh, seakan ia tak pernah utuh   Hari belum memeluk…

Continue Reading

Puisi

Kegelapan Yang Paripurna

Kau adalah lautan Yang dalamnya tak terperi ujunganya tak terdeteksi Kau adalah gelap malam Hitam pekat penuh misteri Apa yang ia telan akan hilang, tak diketahui Meski begitu, malam adalah ketenangan dan puisi Yang indah, panjang, dan tak tersentuh imajinasi Kau adalah rahasia dan warna Ketika aku stalk, Aku sendiri yang tak berdaya Postinganmu itu-itu saja, tak dinamis, stagnan                                                                                                                        Namun…

Continue Reading